Premium Wordpress Themes
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » IBRAH » Wajibnya Khusyu’ dalam Sholat

Wajibnya Khusyu’ dalam Sholat

(472 Views) April 19, 2016 12:26 pm | Published by | No comment

manhajsalafy6

“Wajibnya Khusyu’ dalam Sholat”

“…Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyu’.”
(QS. Al Baqarah: 238)

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al – Baqarah : 45).

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.”
(QS. Al Mukminun: 1-2)

Kekhusyukan didalam sholat dapat dicapai oleh seseorang yang hatinya selalu tertuju kepada sholat tersebut, selalu mementingkannya dibanding masalah-masalah lain. Pada saat itulah sholat akan mampu menjadikannya tenang, damai, tenteram dan akan dapat menjadi penyedap pandangannya.

Rasulullah SAW bersabda: “Penyedap pandanganku dijadikan di dalam sholat.”
(Tafsir Ibnu Katsir, jilid 5 hal 456, Musnad Ahmad III/128 dan Shahihul Jami’ 3124)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan sebab-sebab Khusyu’ dalam Sholat:
Pertama: Mendatangkan segala sesuatu yang dapat merealisasikan kekhusyukan didalam sholat, kemudian memperkuatnya.
Memperkuat kehendak. Kesungguhan seorang hamba untuk mengetahui apA yang dikatakan dan dikerjakannya, berfikir tentang bacaan, dzikir dan do’a yang terdapat dalam sholat dan hatinya hadir di hadapan Allah, sebagai seorang yang berdo’a kepada-Nya sepertinya dia dapat melihat-Nya.
Yang dimaksud dengan Al-Ihsan, Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa, maka berkeyakinanlah bahwa Dia melihatmu.” (Lihat Hadits Arba’in Nawawi)

Dan pada setiap hamba dapat merasakan kelezatan sholat, maka dia akan bertambah senang untuk selalu mengerjakannya. Dan hal ini sesuai dengan kekuatan iman seseorang.

Kedua: Menghilangkan segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan. Maksudnya adalah usaha seseorang untuk membendung segalaa sesuatu yang dapat menjadikan hati nurani berfikir tentang masalah-masalah yang tidak ada gunanya. Keraguan-keraguan dan syahwat yang terdapat pada diri seorang hamba itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda di dalam do’anya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’….
(HR. At-Tirmidzi)

Orang-orang yang khusyu’ itu terbagi menjadi beberapa derajat, ada 5 tingkatan sholat yaitu:

Pertama: Tingkatan orang yang dzalim terhadap dirinya sendiri dan selalu lengah terhadap perbuatannya. Golongan orang seperti ini adalah golongan orang yang kurang baik dalam berwudhu’, dalam pelaksanaan sholat tepat pada waktunya, batasan-batasan dan rukun-rukun sholatnya.

Kedua: Tingkatan orang menjaga waktu, batasan-batasan dan rukun-rukun sholatnya, ditinjau dari sisi dzahiriyah, sebaik dalam pelaksanaan wudhunya. Akan tetapi dia tidak berusaha untuk memerangu hawa nafsunya, sehingga dia melaksanakan sholat itu bersama dengan gangguan dan tipu daya syetan dan pikirannya pun tidak terfokuskan terhadap sholat yang sedang dilaksanakannya.

Ketiga: Tingkatan orang yang selalu menjaga batasan-batasan dan rukun-rukun sholatnya dan selalu berusaha untuk memerangi hawa nafsunya serta berusaha untuk mengkonsentrasikan fikirannya terhadap sholat yang sedang dilaksanakannya. Namun pada saat bersamaan dia masih disibukkan oleh anggota badannya, yang dimaksudnya agar dia tidak merampok sholatnya. Maka orang itu tertolong sebagai orang yang melaksanakan sholat dan berusaha untuk memerangi hawa nafsunya.

Keempat: Tingkatan orang yang jika melaksanakan sholat menyempurnakan hak-hak, rukun-rukun dan batasan-batasan sholatnya. Hati orang itu tenggelam dalam menjaga batasan-batasan dan hak-hak yang terdapat didalam sholatnya agar tidak ada sesuatu yang hilang diantara sholatnya. Bahkan seluruh anggota tubuhnya difokuskan terhadap sholatnya sesempurna mungkin dan selengkap mungkin, sehingga hatinya tenggelam didalam permasalahan-permasalahan sholat itu dan didalam penghambaan terhadap Tuhannya Dzat Yang Mahaa Suci dan Maha Tinggi.

Kelima: Tingkatan orang yang jika dia melaksanakan sholatnya seperti orang yang berada di tingkatan keempat. Bersamaan dengan itu, diaa mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Tuhannya, Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Orang ini dapat melihat Tuhannya dengan mata hatinya. Hati orang itu selalu menjaga keterkaitannya dengan sang Tuhan, sehingga hatinya itu penuh dengan kecintaan dan pengagungan terhadap-Nya, sepertinya hati itu dapat memandang-Nya secara langsung. Dengan demikian, telah hilang gangguan dan daya upaya yang dilancarkan oleh syetan dan terangkatlah tirai-tirai penghalang yang berada diantara orang itu dengan Tuhannya. Maka sholat orang ini mempunyai nilai yang sangat agung dan perbandingannya pun dengan sholat yang dilakukan secara serampangan adalah bagaikan langit dan bumi. Inilah sholat yang akan menjadi penyedap pandangan, Subhanallah.

Akhirnya, kami berdo’a dengan hati yang tulusa dan penuh dengan kekhusyukan kepada Allah, Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, semoga kita akan dijadikan salah seorang di antara golongan orang-orang yang khusyu’.
Segala puja dan puji hanyalah milik Allah, Tuhan sekalian alam.

Semoga bermanfaat

Sumber: 33 Kiat Khusyu’ dalam Sholat oleh Muhammad Shaleh Al Munajjid, Pustaka Al-Kautsar, Juli 2002.

Categorised in:

No comment for Wajibnya Khusyu’ dalam Sholat

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *