Premium Wordpress Themes
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » MANHAJ » Tahdzir Dalam Manhaj Ahlus Sunnah

Tahdzir Dalam Manhaj Ahlus Sunnah

(478 Views) April 3, 2016 2:49 am | Published by | No comment

asysyariah-107

Definisi Tahdzir

Tahdzir تَحْذِيرٌ dalam bahasa Arab bermakna takhwif dan tahdid, yakni memberi rasa takut dan ancaman. Tahdzir berasal dari kata .حِذْرٌ Allah ‘azza wa jalla berfirman,
خُذُواْ حِذۡرَكُمۡ

“Bersiapsiagalah kamu….” (an-Nisa’: 71)

Disebut الحِذْرُ dan الحَذْرُ, kata al-Farra’, “Kebanyakan ucapan menyebutkan الحَذْرُ, maknanya adalah berhati-hati dari sesuatu agar tidak tertimpa dan terjerumus ke dalamnya. Adapun secara istilah, yang dimaksud tahdzir adalah beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan memberi peringatan dari sesuatu yang menyelisihi syariat dengan cara tertentu, baik dengan ucapan maupun perbuatan.”

Tahdzir dalam Al-Qur’an

Di dalam Islam, ada perintah dan ada pula larangan. Allah ‘azza wa jalla senantiasa memerintah dan mengajak hamba-Nya untuk menjalankan apa saja yang diperintahkan-Nya. Demikian pula, Allah ‘azza wa jalla senantiasa melarang dan memberi peringatan agar hamba-Nya tidak terjatuh ke dalam berbagai larangan tersebut.

Karena itu, diutuslah para rasul, diturunkan kitab-kitab, ditegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan jihad fi sabilillah. Semua itu bertujuan menegakkan syariat Allah ‘azza wa jalla yang berupa menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ‘azza wa jalla memberi peringatan kepada hamba-Nya dari berbagai larangan tersebut dalam beberapa bentuk, di antaranya:

Dengan menyebut kata tahdzir itu sendiri

Contohnya ialah firman Allah,
وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨

“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)

Dalam bentuk larangan dan perintah untuk menjauhinya

Misalnya, firman Allah ‘azza wa jalla,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al-Isra: 23)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٩٠

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka dari itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah: 90)

Dengan menyifati sesuatu tersebut sebagai kejahatan dengan tujuan agar hal tersebut dijauhi.

Contohnya adalah firman-Nya,
إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٥٥

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (Al-Anfal: 55)

Diharamkannya perbuatan tersebut

Hal ini seperti yang disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala,
ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (al-A’raf: 157)

Menyifati sesuatu tersebut sebagai penyimpangan dan kesesatan

Contohnya firman Allah ‘azza wa jalla,
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 7)

Masih banyak lagi bentuk tahdzir yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam kitab-Nya.

Di antara hal yang Allah ‘azza wa jalla tahdzir darinya ialah mengikuti hawa nafsu dan duduk bersama pengusung kebatilan dan kesesatan yang mengikuti hawa nafsunya. Firman-Nya,
وَلَوۡ شِئۡنَالَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ١٧٦

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah; maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Al-A’raf: 176)

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla,
وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ إِنَّكُمۡ إِذٗا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk beserta mereka hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sebab, sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam Jahanam.” (An-Nisa: 140)
وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Di dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas tentang larangan duduk bersama ahlul batil dengan beragam jenisnya, baik ahli bid’ah maupun orang fasik, ketika mereka sedang membicarakan kebatilannya.” (Tafsir ath-Thabari, 7/ 229)

Ibnu Aun rahimahullah berkata, “Muhammad bin Sirin rahimahullah berpandangan bahwa manusia yang paling cepat murtad dari agamanya adalah ahlul ahwa (ahlul bid’ah), dan beliau memandang bahwa ayat ini diturunkan atas mereka… (lalu beliau membaca surah al-An’am ayat 68).” (al-Ibanah, 2/431, karya Ibnu Baththah)

Tahdzir dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Demikian pula halnya dalam sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tahdzir terhadap sesuatu dalam berbagai bentuk, di antaranya sebagai berikut.

1. Perintah untuk menjauhinya

Contohnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قَالَ :اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyekutukan Allah ‘azza wa jalla, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla kecuali dengan cara yang haq, memakan hasil riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dalam kondisi perang berkecamuk, dan menuduh wanita mukminah yang memelihara kehormatan dirinya.” ( Muttafaqun ‘alaihi)

2. Larangan melakukannya

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِم تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang-orang yang telah berislam dengan lisannya, namun iman belum masuk ke dalam hatinya; janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, mencela mereka, dan mencari-cari aib mereka. Sebab, sesungguhnya barang siapa berada di tengah mencari-cari aib saudaranya, Allah ‘azza wa jalla akan mengamati pula aibnya. Barang siapa yang Allah ‘azza wa jalla amati aibnya, Dia akan mempermalukannya, meskipun ia sedang rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram, no. 420)

3. Memberi gelar yang buruk kepadanya

Misalnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kelompok Khawarij,

الْخَوَارِجُ هُمْ كِ بَالُ النَّارِ

“Khawarij adalah anjing-anjing neraka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abi Aufa radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 3347)

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kelompok al-Qadariyah, pengingkar takdir Allah ‘azza wa jalla yang merupakan salah satu rukun Islam

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ، إِنْ مَرِضُوا فَ تَعُودُوهُمْ، وَإِنْ مَاتُوا فَ تَشْهَدُوهُمْ

“Al-Qadariyah adalah Majusi umat ini. Jika mereka sakit, jangan kalian jenguk. Jika mereka mati, jangan kalian hadiri jenazahnya.” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan hasan olah al-Albani dalam Shahih al- Jami’ ash-Shaghir, no. 4442)

Dalil-dalil ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahdzir kelompok sempalan yang menyimpang dari ashshirath al-mustaqim.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah yang radhiallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Rabb kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 7)

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

“Apabila engkau melihat orang yang mengikuti perkara yang mutasyabih (tersamarkan), mereka itulah orang yang disebut oleh Allah ‘azza wa jalla; maka berhatihatilah kalian terhadap mereka.”

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Dalam hadits ini terdapat peringatan agar tidak bergaul dengan orang yang menyimpang, ahli bid’ah, dan yang suka mencari perkara samar dengan tujuan menebarkan fitnah.” (Syarah Shahih Muslim, 16/ 218)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi peringatan dari bid’ah secara umum dalam sabdanya,

وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَ لَالَةٌ

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. Setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam para ahli bid’ah bahwa mereka terhalangi dari bertobat hingga mereka meninggalkan bid’ahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghalangi tobat dari setiap pelaku kebid’ahan hingga ia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. ath-Thabarani, adh-Dhiya al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 101)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Sumber: asysyariah.com/tahdzir-dalam-manhaj-ahlus-sunnah/

Semoga bermanfaat

Categorised in:

No comment for Tahdzir Dalam Manhaj Ahlus Sunnah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *