Premium Wordpress Themes
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » IBRAH » Ciri-ciri ‘Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

Ciri-ciri ‘Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

(613 Views) Mei 12, 2016 2:42 am | Published by | No comment

emas-murni

Mengenal ciri-ciri ulama yang benar adalah sangat penting. Karena di negeri kita, banyak orang yang hanya karena pandai berbicara dan melawak, bisa dianggap sebagai ulama. Padahal tak jarang di antara mereka setelah memiliki pengikut banyak kemudian berubah haluan menjadi seorang politikus.

Gelar ulama bukanlah gelar yang mudah untuk disandang dan dipajang dalam bingkaian nama seseorang. Akan tetapi merupakan pemberian dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ulama bukanlah sebuah gelar yang bisa dicari dalam jenjang pendidikan tinggi dengan nilai ijazah yang mumtaz (terbaik), bukan pula gelar yang dicari dan didapatkan dengan jumlah pengikut yang setia dan banyak.

Sekali lagi, ia adalah pemberian Allah subhanahu wa ta’ala kepada siapa yang diridhai- Nya. Jika demikian, jangan Anda salah alamat untuk mencarinya. Carilah di tangan pemiliknya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, dengan cara yang telah digariskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika cara demikian yang ditempuh, Anda akan mendapatkan gelar ulama yang hakiki, bukan buatan dan bukan hasil sogokan.

Siapa yang Dinamakan Ulama?

Terdapat beberapa ungkapan ulama dalam mendefinisikan ulama. Ibnu Juraij rahimahullah menukilkan (pendapat) dari ‘Atha, beliau berkata, “Barang siapa yang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia adalah orang alim.” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, hlm. 2/49)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Kitabul ‘Ilmi mengatakan, “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” (Kitabul ‘Ilmi hlm. 147)

Badruddinal-Kinanit mengatakan, “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, serta mengajak kepada kebaikan dan menafikan segala bentuk kemudaratan.” (Tadzkiratus Sami’ hlm. 31)

Abdus Salam bin Barjas rahimahullah mengatakan, “Orang yang pantas untuk disebut sebagai orang alim jumlahnya sangat sedikit sekali dan tidak berlebihan kalau kita mengatakan jarang. Yang demikian itu karena sifat-sifat orang alim mayoritasnya tidak akan terwujud pada diri orang-orang yang menisbahkanjdiri kepada ilmu pada masa ini. Bukan dinamakan alim bila sekadar fasih (piawai) dalam berbicara atau pandai menulis, orang yang menyebarluaskan karya-karya atau orang yang men-tahqiq kitab-kitab yang masih dalam tulisan tangan. Kalau orang alim ditimbang dengan ini, maka cukup (terlalu banyak orang alim). Namun penggambaran seperti inilah yang banyak menancap di benak orang-orang yang tidak berilmu.

Oleh karena itu, banyak orang tertipu dengan kefasihan seseorang dan tertipu dengan kepandaian menulis, padahal ia bukan ulama. Ini semua menjadikan orang-orang takjub. Orang alim hakiki adalah yang mendalami ilmu agama, mengetahui hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah. Mengetahui ilmu ushul fikih seperti nasikh dan mansukh, mutlak, muqayyad, mujmal, mufassar, dan juga orang-orang yang menggali ucapanucapan salaf terhadap apa yang mereka perselisihkan.” (Wujubul Irtibath bi ‘Ulama, hlm. 8)

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan ciri khas seorang ulama yang membedakan dengan kebanyakan orang yang mengaku berilmu atau yang diakui sebagai ulama bahkan waliyullah. Dia berfirman,
إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)

Ciri-Ciri Ulama

Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui siapa sesungguhnya yang pantas untuk menyandang gelar ulama dan bagaimana besar jasa mereka dalam menyelamatkan Islam dan muslimin dari rongrongan penjahat agama, mulai dari masa terbaik umat yaitu generasi sahabat hingga masa kita sekarang.

Pembahasan ini juga bertujuan untuk memberi gambaran (yang benar) kepada sebagian muslimin yang telah memberikan gelar ulama kepada orang yang tidak pantas untuk menyandangnya.

Sebagian kaum muslimin ada yang meremehkan hak-hak ulama. Di sisi mereka, yang dinamakan ulama adalah orang yang memikat ketika berbicara dan memperindah perkataannya dengan cerita-cerita, syair-syair, atau ilmu-ilmu pelembut hati.
Sebagian kaum muslimin menganggap ulama itu adalah orang yang mengerti realita hidup dan yang mendalaminya, orang-orang yang berani menentang pemerintah—meski tanpa petunjuk ilmu.
Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah kutu buku, meskipun tidak memahami apa yang dikandungnya sebagaimana yang dipahami generasi salaf.
Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan alasan mendakwahi manusia. Mereka mengatakan kita tidak butuh kepada kitab-kitab, kita butuh kepada da’i dan dakwah.
Sebagian muslimin tidak bisa membedakan antara orang alim dengan pendongeng dan juru nasihat, serta antara penuntut ilmu dan ulama. Di sisi mereka, para pendongeng itu adalah ulama tempat bertanya dan menimba ilmu.

Di antara ciri-ciri ulama adalah:

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Mereka adalah orangorang yang tidak menginginkan kedudukan, membenci segala bentuk pujian, dan tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabb-nya.”

Dalam riwayat lain, “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikit pun dalam menyampaikan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala.” (al- Khithabul Minbariyyah, 1/177)

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Mereka adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi as-Sunnah.”
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka dan mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.”
Mereka berpendapat bahwa kebenaran dan hidayah ada dalam mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَرَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ ٱلۡحَقَّ وَيَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ٦

“Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabb-mu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Mahamulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)

Mereka adalah orang yang paling memahami segala bentuk permisalan yang dibuat Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an, bahkan apa yang dimaukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣

“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-‘Ankabut: 43)

Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath (mengambil hukum) dan memahaminya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٣

“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkan kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil hukum (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidak dengan karunia dan rahmat dari Allah kepada kami, tentulah kalian mengikuti setan kecuali sedikit saja.” (an-Nisa: 83)

Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan khusyuk dalam merealisasikan perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ ءَامِنُواْ بِهِۦٓ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَۤ لِلۡأَذۡقَانِۤ سُجَّدٗاۤ ١٠٧ وَيَقُولُونَ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِن كَانَ وَعۡدُ رَبِّنَا لَمَفۡعُولٗا ١٠٨ وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا ١٠٩

“Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah subhanahu wa ta’ala).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, ‘Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (al-Isra:107—109) (Mu’amalatul ‘Ulama karya asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Wujub al-Irtibath bil ‘Ulama karya asy-Syaikh Hasan bin Qasim ar-Rimi)

Inilah beberapa sifat ulama hakiki yang dimaukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya. Dengan semua ini, jelaslah orang yang berpura-pura berpenampilan ulama dan berbaju dengan pakaian mereka padahal tidak pantas memakainya. Semua ini membeberkan hakikat ulama ahlul bid’ah yang mereka bukan sebagai penyandang gelar ini. Dari al-Qur’an dan as-Sunnah mereka jauh dan dari manhaj salaf mereka keluar.

Contoh-Contoh Ulama Rabbani

Pembahasan ini bukan membatasi mereka akan tetapi sebagai permisalan hidup ulama walau mereka telah menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka hidup dengan jasa-jasa mereka terhadap Islam dan muslimin dan mereka hidup dengan karya-karya peninggalan mereka.

Generasi sahabat yang langsung dipimpin oleh empat khalifah ar- Rasyidin: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiallahu ‘anhum.
Generasi tabiin dan di antara tokoh mereka adalah Sa’id bin al- Musayyib (meninggal setelah tahun 90 H), ‘Urwah bin az-Zubair (meninggal tahun 93 H), ‘Ali bin Husain Zainal Abidin (meninggal tahun 93 H), Muhammad bin al-Hanafiyyah (meninggal tahun 80 H), ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud (meninggal tahun 94 H atau setelahnya), Salim bin Abdullah bin ‘Umar (meninggal tahun 106 H), al-Hasan al-Basri (meninggal tahun 110 H), Muhammad bin Sirin (meninggal tahun 110 H), ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H), dan Muhammad bin Syihab az-Zuhri (meninggal tahun 125 H).
Generasi atba’ at-tabi’in dan di antara tokoh-tokohnya adalah Al- Imam Malik (179 H), al-Auza’i (107 H), Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri (161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (198 H), Ismail bin ‘Ulayyah (193 H), al-Laits bin Sa’d (175 H), dan Abu Hanifah an-Nu’man (150 H).
Generasi setelah mereka, di antara tokohnya adalah Abdullah bin al-Mubarak (181 H), Waki’ bin Jarrah (197 H), Muhammad bin Idris asy- Syafi’i (203 H), Abdurrahman bin Mahdi (198 H), Yahya bin Sa’id al- Qaththan (198 H), dan ‘Affan bin Muslim (219 H).
Murid-murid mereka, di antara tokohnya adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), Yahya bin Ma’in (233 H), dan ‘Ali bin al-Madini (234 H).
Murid-murid mereka seperti al-Imam Bukhari (256 H), al-Imam Muslim (261 H), Abu Hatim (277 H), Abu Zur’ah (264 H), Abu Dawud (275 H), at-Tirmidzi (279 H), dan an-Nasai (303 H).
Generasi setelah mereka, di antaranya Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), ad-Daruquthni (385 H), al-Khathib al-Baghdadi (463 H), dan Ibnu Abdil Bar an-Numairi (463 H).
Generasi setelah mereka, di antaranya adalah Abdul Ghani Al- Maqdisi, Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah (728 H), al-Mizzi (743 H), adz-Dzahabi (748 H), dan Ibnu Katsir (774 H), berikut para ulama yang semasa mereka atau murid-murid mereka yang mengikuti manhaj mereka dalam berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sampai pada hari ini.
Contoh ulama di masa ini adalah asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, asy- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, dan selain mereka dari ulama yang telah meninggal di masa kita. Berikutnya asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, asy-Syaikh Zaid al-Madkhali, asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad, asy-Syaikh al-Ghudayyan, asy-Syaikh Shalih al-Luhaidan, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Shalih as-Suhaimi, asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri, dan selain mereka yang mengikuti langkah-langkah mereka di atas manhaj Salaf. (Makanatu Ahli Hadits karya asy-Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali; Wujub Irtibath bi Ulama)

Wallahu a’lam.
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Sumber: asysyariah.com/ciri-ciri-ulama/

Semoga bermanfaat
Afwan Jazakumullah khoer atas kunjungannya

Categorised in:

No comment for Ciri-ciri ‘Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *