Premium Wordpress Themes
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » AKHLAK » Adab Para Pembawa Al-Qur’an

Adab Para Pembawa Al-Qur’an

(576 Views) Mei 10, 2016 3:30 am | Published by | No comment

quran-meja

Oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Sepanjang sejarah manusia, belum pernah terdengar ada sebuah kitab yang seagung kitab suci al-Qur’an. Di dalamnya termuat beragam ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan terkandung ajakan kepada segala kebaikan yang dengan mengamalkannya manusia akan menjadi sebaik-baik makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Padanya ada kisah-kisah umat terdahulu yang dijadikan pelajaran bagi orang yang datang setelahnya.

Barang siapa berhukum dengan al-Qur’an niscaya ia akan menemukan keadilan yang sesungguhnya. Ayat-ayatnya bagaikan lampu dan rambu-rambu jalan yang menyinari dan menunjuki manusia dalam menapaki kehidupan dunia yang fana ini untuk menuju alam yang hakiki nan abadi.

Al-Qur’an memiliki keutamaan yang banyak, yang terbesarnya adalah al-Qur’an merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla telah memuji al-Qur’an dalam ayat-ayat-Nya yang banyak, seperti firman-Nya,

“Dan ini (al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi.” (al-An’am: 92)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (al-Isra’: 9)

Di antara keistimewaan al-Qur’an, ia telah mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah ‘azza wa jalla sehingga ia selalu terjaga kemurniannya dari ulah tangan-tangan yang jahat. Hal ini tentu berbeda denganat-Taurat dan al-Injil.

Al-Qur’an telah disifati dengan sifat-sifat kemuliaan, seperti petunjuk, rahmat, cahaya, obat, diberkahi, dan mulia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Katakanlah, ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin’.” (Fushshilat: 44)

Sifat-sifat kemuliaan yang ada pada al-Qur’an juga akan didapat pada orang yang membacanya, memahaminya, dan yang mengamalkannya.

Berita Gembira

Bagi seorang mukmin, mengimani al-Qur’an adalah suatu keharusan karena meyakininya merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Bentuk mengimaninya adalah dengan meyakini al-Qur’an adalah kalam Allah ‘azza wa jalla dan bukan makhluk, memercayai seluruh berita yang ada padanya, menjalankan segala perintah yang termuat di dalamnya dan meninggalkan semua larangan yang tertera pada ayat-ayatnya.

Jika seperti ini keyakinan seseorang terhadap al-Qur’an, ia berhak mendapat berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla berupa kesejahteraan hidup di dunia yang berlanjut dengan kehidupan yang serba menyenangkan di akhirat kelak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Petunjuk Allah ‘azza wa jalla di sini adalah al-Qur’an.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, Allah ‘azza wa jalla telah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada padanya bahwa ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. (Tafsir ath-Thabari, 16/225)

Dengan mengikuti al-Qur’an seseorang akan terangkat harkat dan martabatnya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengangkat dengan al-Qur’an ini suatu kaum dan Allah ‘azza wa jalla rendahkan dengan al-Qur’an ini kaum yang lain.” (HR. Muslim dari sahabat Umar radhiallahu ‘anhu)

Diangkat kedudukan orang yang mengikuti al-Qur’an pada posisi yang terpandang yang tak terbayang sebelumnya dan dihinakan orang yang menentangnya meskipun ia berangkat dari keluarga yang terpandang.

Tiada bukti yang lebih jelas untuk hal ini melebihi kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sebelumnya telah berada di tepi jurang kehancuran di mana telah berlaku di tengah-tengah mereka hukum rimba, yang kuat mencaplok yang lemah, kejahatan sosial merupakan pemandangan yang lumrah, sehingga bangsa-bangsa lain menganggapnya remeh dan rendah.

Namun, ketika cahaya kenabian menyinari Jazirah Arab, kemudian mereka mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengimani kitab yang dibawanya, berubahlah mereka menjadi bangsa yang disegani dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Dalam waktu yang singkat mereka mampu mematahkan kecongkakan dua negeri adikuasa di masa itu yaitu Persia dan Romawi, ketika dua bangsa ini menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kitab suci yang dibawanya.

Sungguh, telah datang dalil yang banyak tentang keutamaan ahli al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (al-A’raf: 170)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa al-Qur’an nanti datang di hari kiamat memberi syafaat (pembelaan) kepada orang yang membacanya. Bagi yang membacanya, setiap satu huruf yang ia baca akan memperoleh satu kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Bahkan, orang yang mahir (pandai) dalam membaca al-Qur’an di akhirat kelak akan bersama para utusan yang mulia dari kalangan malaikat, sedangkan yang membacanya terbata-bata maka mendapat dua pahala.

Macam-Macam Pembawa al-Qur’an

Membaca al-Qur’an termasuk sebaik-baik zikir dan para pembawanya tergolong manusia yang terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu)

Akan tetapi untuk mendapatkan predikat sebaik-baik manusia tidak cukup hanya membaca dan mempelajarinya, tentu di sana ada persyaratan yang lain seperti ikhlas dan mengamalkan isi kandungannya.

Berikut ini macam-macam pembawa al-Qur’an.

Orang yang membacanya sesuai dengan kaidah-kaidah membaca al-Qur’an dengan memahami ayat-ayatnya serta mengamalkannya. Berita-beritanya ia percayai, segala perintahnya ia laksanakan dan semua larangannya ia tinggalkan. Ia lakukan semua ini karena mengharap ridha Allah ‘azza wa jalla. Orang seperti ini tergolong manusia terbaik. Ia mulia di hadapan Allah ‘azza wa jalla dan terhormat di tengah-tengah manusia.
Orang yang menegakkan hurufhurufnya, yakni ia membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah bacaannya namun tidak menegakkan hukum-hukum al-Qur’an.

Ini jenis orang yang merugi, kelak al-Qur’an akan menjadi penghujat atasnya.

Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai jembatan untuk meraih pengakuan di mata manusia dan untuk menggapai posisi duniawi.

Ia tidak memuliakan al-Qur’an sebagaimana mestinya. Yang halal tidak dihalalkan dan yang haram tidak diharamkan. Orang seperti ini tak ada bedanya dengan orang yang bodoh.

Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai tangga untuk mendapatkan pekerjaan yang rendah, seperti seorang menghafal al-Qur’an agar kelak disewa pada banyak kesempatan. Tujuannya, ia bisa mendapatkan uang/materi darinya.

Misalnya, ia disewa untuk membaca al-Qur’an pada acara-acara kematian dan di sisi kuburan. Seperti inilah bagiannya dari menghafal al-Qur’an. Apabila kita lihat akhlak kesehariannya, sangat bertolak belakang dari petunjuk al-Qur’an.

Etika-Etika Pembawa al-Qur’an

Karena mulianya al-Qur’an dan tingginya kedudukan orang yang membawanya maka sudah sepantasnya bagi para pembawa al-Qur’an untuk mengetahui adab-adab yang sesuai dengan kedudukannya.

Di antara adab-adab tersebut adalah:

Selalu menjaga keikhlasan hati dan hanya mengharap ridha Allah ‘azza wa jalla ketika ia membaca al-Qur’an atau menghafalnya. Tiada ambisi keduniawian di saat membacanya baik berupa pujian, harta, kepemimpinan, kedudukan di mata manusia, atau merasa tinggi di sisi rekan-rekannya.
Hendaknya waspada dari sikap sombong dan bangga diri di saat banyak manusia yang belajar kepadanya. Demikian pula waspada dari sikap iri dan tidak suka jika ada orang belajar al-Qur’an dari selain dia.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, “Aku ingin bila manusia itu mempelajari ilmu ini—yakni ilmu dan kitab-kitabnya—lalu tidak disandarkan kepadaku satu huruf pun darinya.”

Menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji dan perangai yang diridhai, seperti sifat zuhud (tidak ada ketergantungan) terhadap dunia, dermawan, wajah yang murah senyum, sabar, tidak terburu-buru dalam menyikapi sesuatu, menjaga diri dari menggeluti usaha yang tidak mulia, khusyuk dan rendah hati, serta menjauhkan diri dari (banyak) tertawa dan sering bercanda.
Menjaga kebersihan badan dengan menghilangkan kotoran yang melekat dan hal-hal yang diperintahkan oleh syariat untuk dibersihkan dari tubuh seperti memangkas kumis, memotong kuku, dan menghilangkan bau-bau yang tidak sedap.
Waspada dari sifat iri dengki, riya, bangga diri, dan dari sikap merendahkan orang lain meskipun orang tersebut kedudukannya di bawahnya.
Mempraktikkan hadits-hadits yang datang tentang (keutamaan) bertasbih, bertahlil, dan yang lainnya dari wirid-wirid dan doa.
Selalu merasa diawasi oleh Allah ‘azza wa jalla baik di saat sepi maupun di hadapan orang lain, serta selalu bersandar (bertawakal) kepada Allah ‘azza wa jalla dalam setiap urusannya. (lihat Adab Hamatil Qur’an, al-Imam an-Nawawi hlm. 50—54)
Tidak pantas pembawa al-Qur’an untuk memiliki perangai yang kaku, sikap masa bodoh, suka berteriak-teriak, dan gampang marah.

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Seyogianya orang yang membawa al-Qur’an dikenal (ketaatannya) di malam hari saat manusia tidur, dan dikenal (puasanya) di siang hari saat manusia tidak berpuasa, dikenal kesedihannya (karena memikirkan dirinya) saat manusia bersuka ria, diketahui sedang menangis saat manusia sedang tertawa-tawa, diketahui bersikap diam (berbicara seperlunya) saat manusia tenggelam dalam pembicaraan, dan dikenal khusyuk saat manusia memiliki sikap angkuh.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Pembawa al-Qur’an adalah pembawa panji-panji Islam. Ia tidak pantas berkatakata yang sia-sia dan tidak pantas untuk lalai dan bermain-main bersama orang yang lalai dan bermain-main karena mengagungkan Allah ‘azza wa jalla.”

Tidak pantas bagi pembawa al-Qur’an untuk meletakkan kebutuhannya kepada orang lain. Semestinya, manusialah yang menaruh kebutuhan mereka kepadanya. (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin 66)

Beberapa Adab Saat Membaca Al-Qur’an

Bila seorang ingin membaca al-Qur’an seyogianya untuk membersihkan mulutnya dengan siwak atau semisalnya.
Disunnahkan untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan suci dan seandainya seorang membaca dalam keadaan berhadats maka boleh menurut kesepakatan (ulama) kaum muslimin.
Disunnahkan untuk membaca al-Qur’an di tempat yang bersih seperti masjid.
Bagus kiranya orang yang membaca al-Qur’an selain dalam shalat untuk menghadap kiblat dan duduk dengan tenang. Akan tetapi, boleh juga membaca dengan berdiri ataupun berbaring karena dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca al-Qur’an dan kepala beliau pada pangkuan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. ( al-Bukhari)
Ketika akan membaca al-Qur’an membaca ta’awudz.
Ketika membaca hendaklah ia tenang dan memahami isi kandungannya, karena seperti inilah tujuan al-Qur’an diturunkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memahami (isi kandungan) al-Qur’an?!” (Muhammad: 24)

Disunnahkan bila melewati ayat tentang rahmat (kasih sayang Allah ‘azza wa jalla) untuk meminta rahmat dan bila melewati ayat azab ia meminta perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Shahih Muslim dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, lihat at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, karya an-Nawawi)

Wallahu a’lam.

Sumber: asysyariah.com/adab-para-pembawa-al-quran/

Semoga bermanfaat

Categorised in:

No comment for Adab Para Pembawa Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *